29 March 2010

Keteladanan Nabi Ibrahim

BY Fath_n!e$@ IN No comments

Kata uswah atau keteladanan dalam Al-Qur'an hanya
ditujukan pada dua tokoh nabi yang sangat mulia, Nabi Ibrahim a.s.
(Mumtahanah: 4,6) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Ahzab: 21). Demikian juga
gelar khalilullah (kekasih Allah) hanya disandang oleh kedua nabi
tersebut. Begitu juga shalawat yang diajarkan Rasulullah saw. pada
umatnya hanya bagi dua nabi dan keluarganya. Pilihan Allah ini sangat
terkait dengan risalah yang telah dilakukan oleh keduanya dengan
sangat sempurna.

Sejarah dan keteladan Nabi Muhammad saw. telah banyak disampaikan. Dan
pada kesempatan ini marilah kita sedikit menyingkap sejarah dan
keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. "Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya
Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.' Ibrahim berkata,
'(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.' Allah berfirman, 'Janji-Ku
(ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.'" (Al-Baqarah: 124)

Berkata Ibnu Abbas r.a., "Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian
dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim
as." Ibnu Abbas banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang
dilaksanakan Ibrahim a.s, di antaranya manasik atau ibadah haji;
kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh. Lima di
bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung,
siwak, dan membersihkan rambut. Lima pada bagian tubuh yaitu
menggunting kuku, mencukur rambut bagian kemaluan, khitan, mencabut
rambut ketiak, dan istinja.

Dalam riwayat lain Ibnu Abbas mengatakan, "Kalimat atau tugas yang
dilaksanakan dengan sempurna yaitu meninggalkan kaumnya ketika mereka
menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar ketika
dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah
airnya, menjamu tamunya dengan baik, dan bersabar ketika diperintah
menyembelih putranya.

Firman Allah yang berbunyi 'faatammahunna' mengandung makna bahwa
tugas yang diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera,
sempurna, dan dilakukan semuanya. Menurut Abu Ja'far Ibnu Jarir, "Yang
di maksud 'kalimat' boleh jadi mengandung semua tugas, atau
sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu
kecuali ada dalil nash atau ijma' yang membolehkannya.

Ibrahim Dan Kaumnya

Ibrahim as. bin Nahur -dalam Al-Qur'an bapaknya dinamakan Aazar,
tetapi yang lebih kuat bahwa Aazar adalah nama berhala yang
dinisbatkan pada bapak Ibrahim, karena pekerjaannya yang senantiasa
membuat berhala- adalah seorang yang mendapat karunia teramat besar
dari Allah. Semenjak kecil beliau terbebas dari kemusyrikan bapak dan
kaumnya. Ibrahim menjadi seorang yang hanif dan imam bagi manusia
(An-Nahl: 120-121). Dan Ibrahim sangat bersemangat untuk mendakwahi
bapaknya dan kaumnya agar hanya menyembah Allah saja. Ini adalah
sunnah dakwah bahwa yang pertama kali harus didakwahi adalah orang tua
dan keluarga, kemudian kaum dan penguasa.

Menurut pendapat yang kuat, Ibrahim lahir di kota Babil (Babilonia),
Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk
orang yang ahli dalam membuat berhala. Ibrahim membantah penyembahan
mereka, bahkan berencana untuk menghancurkan berhala-berhala itu.
Peristiwa ini diabadikan dalam beberapa surat, di antaranya di QS. 21:
51-70, 26: 69-82, dan 37: 83-98.

Penduduk kota Babil memiliki tradisi merayakan Id setiap tahun dengan
pergi keluar kota. Ibrahim diajak bapaknya untuk ikut, tetapi Ibrahim
menolak dengan halus. Ia berkata, "Sesungguhnya Aku sakit."
(Ash-Shaaffat: 88-89). Dan ketika kaumnya pergi untuk merayakan Id,
Ibrahim segera menuju penyembahan mereka dan menghancurkan dengan
kampak yang ada di tangannya. Semua dihancurkan dan hanya disisakan
satu berhala yang besar, dan kampak itu dikalungkan pada berhala itu.
(Al-Anbiya': 58)

Demikianlah, Ibrahim menghinakan penyembahan kaumnya. Sebenarnya
mereka sadar akan kesalahan itu. Tetapi, yang berjalan pada mereka
adalah logika kekuatan melawan kekuatan logika Ibrahim. Akhirnya
mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim (Ash-Shaaffat : 97;
Al-Anbiya': 68-70).

Ibrahim Dan Raja An-Namrud

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang
Tuhannya (Allah) karena Allah Telah memberikan kepada orang itu
pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: 'Tuhanku ialah
yang menghidupkan dan mematikan,' orang itu berkata: 'Saya dapat
menghidupkan dan mematikan.' Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya Allah
menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.'
Lalu, terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zhalim."

Menurut ulama tafsir dan nasab, raja itu adalah Raja An-Namrud bin
Kan'an, penguasa Babil. menurut As-Sudy, "Debat ini terjadi antara
Ibrahim dan Raja Namrud setelah Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan
dibakar api." Zaid bin Aslam berpendapat, "Ibrahim diutus pada raja
yang diktator tersebut, memerintahkan agar beriman kepada Allah.
Berkali-kali diseru agar beriman, tetapi terus menolak. Kemudian
menantang Ibrahim a.s. agar mengumpulkan pengikutnya dan Namrud pun
mengumpulkan rakyatnya lantas terjadilah debat yang disebutkan
Al-Qur'an tersebut." Sekali lagi kekuatan logika Ibrahim a.s.
mengalahkan logika kekuasaan Namrud.

Kisah kematian Raja Namrud dan tentaranya disebutkan dalam Kitab
al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir. Namrud mengumpulkan tentara dan
pasukannnya saat terbit matahari. Kemudian Allah mengutus nyamuk yang
menyebabkan para tentara dan pasukannya tidak dapat lagi melihat
matahari. Nyamuk-nyamuk besar itu memakan daging dan darah mereka dan
meninggalkan tulangnya. Salah satu nyamuk masuk ke hidung Raja Namrud
dan diam di sana selama 400 tahun sebagai bentuk adzab Allah atas raja
itu. Selama waktu itu pula Namrud senantiasa memukuli kepalanya hingga
ia mati.

Ibrahim Dan Keluarganya Hijrah Ke Baitul Maqdis

Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas
dari kezhaliman Raja Namrud, Ibrahim a.s. bersama istrinya, Sarah,
bapak, dan saudara sepupunya, Luth a.s. hijrah menuju Syam. Tepatnya
ke Baitul Maqdis, Palestina (Ash-Shaaffat: 99).

Di tengah jalan, di daerah Haran, Damasqus, bapaknya meninggal.
Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Penduduk kota
ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini Ibrahim a.s.
menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang,
bulan, dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Alquran
surat 6:75-83.

Ibrahim a.s. dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis
setelah sebelumnya mampir di Mesir. Dari Mesir Ibrahim a.s. mendapat
banyak hadiah harta, binatang ternak, budak, dan pembantu bernama
Hajar yang keturunan Qibti, Mesir. Di Baitul Maqdis Ibrahim a.s.
mendapat penerimaan yang baik.

Selama dua puluh tahun tinggal di Baitul Maqdis, Ibrahim a.s. tidak
mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan
memberikan budaknya pada Ibrahim. Berkata Sarah pada Ibrahim,
"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak.
Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita."

Setelah itu, lahirlah Ismail a.s. Tetapi Sarah merasa cemburu berat.
Akhirnya, Ibrahim a.s. membawa Hajar dan putranya ke suatu tempat yang
disebut Gunung Faran (Mekah sekarang), suatu tempat yang sangat
tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail a.s., Allah juga memberi kabar
gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir seorang anak. Lahirlah Ishaq
a.s. Ibrahim a.s. sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini.
Puncak kenikmatan yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah kedua
putra itu kelak menjadi nabi dan secara turun-temurun melahirkan nabi.
Dari Ishak a.s. lahir Ya'kub dan Yusuf a.s. serta keluarga nabi dari
Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail a.s. lahirlah Nabi
Muhammad saw.

Pengorbanan Ibrahim Dan Keluarganya

Episode berikutnya dilalui Ibrahim a.s. dan keluarganya dengan
pengorbanan demi pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar
dari seorang kepala rumah tangga melebihi pengorbanan meninggalkan
putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan
Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah, yaitu seruan
dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur'an di surat
14:37-40.

Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim a.s. akan meninggalkan
putranya, Ismail, istrinya, Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui.
Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar
bangkit dan memegang baju Ibrahim. "Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana?
Engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi
kebutuhan kami?" Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus-menerus
memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, "Apakah Allah yang
menyuruhmu seperti ini?" Ibrahim menjawab, "Ya.' Hajar berkata, "Kalau
begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita."

Tapi, itu bukan puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak
pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk
akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail
(Ash-Shaaffat: 102-109).

Berkah Pengorbanan

Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat
dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan.
Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam,
abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan
harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah
kita meraih keberkahan.

Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya
menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh
berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan
puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir
seorang manusia pilihan: Muhammad saw., nabi yang menjadi rahmatan
lil'alamiin.

Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga, dan
keturunan kita. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah
para pahlawan yang berkorban telah membuktikan aksioma ini: Ibrahim
dan keluarganya -Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw.
dan keluarganya -siti Khadijah, 'Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.

Begitu juga para sahabat yang mulia: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan
lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi'in, dan tabiit tabi'in:
Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu
Hanifah
, Imam Malik, Imam As-Syafi'i, dan Imam Ahmad. Tak ketinggalan
para pahlawan dari generasi modern juga telah mencontohkan kepada
kita. Mereka di antaranya Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, dan
Hasan Al-Banna. Dan kita yakin akan terus bermunculan
pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan
umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi,
darah syuhada, dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.

Reactions:

0 comments: